KOMPAS.com – Kasus kekerasan seksual Nan menimpa seorang anak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menyingkap sisi suram sebuah Interaksi Griya tangga.

Sang Bunda kandung berinisial HI (46) diputuskan sebagai tersangka dikarenakan membiarkan putrinya diperkosa secara berulang oleh Bapak tirinya, AB (44).

Perbuatan keji Nan telah menyusuri sejak penutup 2023 hingga pertengahan 2026 tersebut ternyata terungkap secara sadar oleh HI. Sang istri beralasan, ia menyetujui perbuatan itu dikarenakan diancam akan diceraikan oleh lelakinya.

lafal juga: Kenapa Bunda di Cianjur Tega Biarkan Anak Kandungnya Disetubuhi Suami?

Fenomena ini memunculkan Soal publik mengenai letak batin nurani tersangka. Apakah seorang Bunda meraih kehilangan Selera bersalah dan membiarkan anaknya sebagai korban kekerasan hanya dikarenakan Selera “percintaan” Nan buta terhadap seorang Pria?

Berikut penjelasan para psikolog klinis Nan Kompas.com wawancarai pada Selasa (23/6/2026) dan Rabu (24/6/2026). Perlu dicatat, para narasumber bukanlah psikolog Nan memeriksa para tersangka.

“Sebenarnya bukan berarti si ibunya mengizinkan anaknya, tapi ya mungkin terpaksa dikarenakan Eksis ukur-ukur Nan Membikin Beliau mungkin enggak mempunyai asal (sumber daya) ciptakan melawan,” urai psikolog klinis Indopsycare Clement Eko Prasetio, M.Psi., Psikolog, Rabu.

Kenapa nurani seorang Bunda meraih terkalahkan?

Narasi bahwa seorang Wanita sengaja menyerahkan anaknya murni dikarenakan kecintaan pada suami, dinilai turun Pas ciptakan menerangkan keseluruhan situasi.

Clement meragukan bahwa seorang Bunda memberikan persetujuannya secara sadar (willing). Menurutnya, ketidakmampuan sang Bunda ciptakan melawan merupakan keluaran dari pola-pola manipulasi Nan telah telanjur melekat tangguh internal Rekanan mereka Seiring sang Bapak tiri.

Pendiri layanan kesehatan mental Cup of Stories, psikolog klinis Fitri Jayanthi, M.Psi., Psikolog, menambahkan bahwa pada umumnya batin nurani dan Selera bersalah itu tetap menyala di internal diri tersangka.

“Sebenarnya enggak semuanya itu Tak mempunyai Emosi bersalah. Eksis juga orang-orang Nan mengalami bersalah, Hanya mereka terpaksa ciptakan melaksanakan itu,” tutur Fitri, Selasa.

Selera bersalah tersebut pada pada akhirnya teredam oleh ketakutan ekstrem Nan mendasarinya.

lafal juga: Kasus di Cianjur, Kenapa Bunda kelebihan khawatir tidak berdua ketimbang Menyelamatkan Anak?

Ketakutan Akbar ini meraih bersumber dari Selera sangat bergantung secara emosional dan finansial, bayang-bayang kehilangan fasilitas dari suami, hingga history melebar berada di internal cengkeraman pelaku.

“Mungkin Eksis trauma-trauma Nan dialami di ketika Lampau, berada di Interaksi Nan manipulatif, tekanan, atau ancaman. Jadi sebenarnya Eksis Emosi bersalah, Hanya Beliau tetap melaksanakan itu dikarenakan ketakutannya akurat-akurat Akbar,” urai Fitri.

mengakui sikap tenteram lewat pelepasan moral

Ilustrasi kekerasan seksual.Unsplash Ilustrasi kekerasan seksual.


Ketika seorang Bunda menyadari dirinya turut andil membiarkan sang buah batin menderita, beban psikologis dari Selera berdosa tersebut tentu sangat berat banget.



By klv6i

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *